Entri Populer

Senin, 31 Juli 2023

peranan wanita didalam minang kabau BUNDO KANDUANG LIMPAPEH RUMAH NAN GADANG

PERANAN WANITA DI MINANG KABAU

Minang kabau memiliki adat dan budaya yang sangat mengistimewakan para wanita didalam kehidupan sehari-hari. meskipun begitu, tampuk kepemimpinan tetap di pegang oleh lelaki yang disebut sebagai ninik mamak. 

keduanya, antara ninik mamak dan perempuan yang disebut sebagai bundo kanduang sama-sama memiliki peranan yang besar dalam kehidupan. sistem matrelinial yang di anut kaum minang digunakan untuk melindungi para wanita.

apabila terjadi di hal yang tidak diinginkan pada seorang wanita, (misal ditinggal suami) maka wanita tidak perlu bersusah payah untuk mencari tempat tinggal baru. karena setelah menikah para suami lah yang tinggal dirumah wanita. 

wanita minang terkenal dengan sifat yang lemah lembut, kuat dalam menghadapi masalah, tegar, pandai dalam bertutur kata, menjaga adab dan tingkah laku, dan pintar memasak.

alam budaya Suku Minangkabau, seorang ibu memiliki pernanan yang sangat penting. Garis keturunan seorang anak diambil dari ibunya, pendidikan dan juga suri tauladan seorang anak juga bersumber dari ibunya. Dalam budaya Suku Minangkabau, seorang ibu kandung atau wanita yang telah memiliki anak disebut sebagai Bundo kanduang atau ibu kandung. Baca juga: Pakaian Tradisional Manteren Lamo, Maluku Utara Bundo kanduang dalam suatu rumah tangga memiliki fungsi sebagai Limpapeh rumah nan gadang atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti penyangga rumah gadang. Rumah gadang adalah rum

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Limpapeh Rumah Nan Gadang, Baju Tradisional Sumatera Barat", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2021/05/03/171936769/limpapeh-rumah-nan-gadang-baju-tradisional-sumatera-barat.
Penulis : Silmi Nurul Utami
Editor : Serafica Gischa

Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6

 

Dalam budaya Suku Minangkabau, seorang ibu memiliki pernanan yang sangat penting. Garis keturunan seorang anak diambil dari ibunya, pendidikan dan juga suri tauladan seorang anak juga bersumber dari ibunya. Dalam budaya Suku Minangkabau, seorang ibu kandung atau wanita yang telah memiliki anak disebut sebagai Bundo kanduang atau ibu kandung.

Namun saat ini bundo kanduang tidak terbatas kepada ibu kandung saja. Tapi juga pada perempuan minang yang sudah menikah. Bundo kanduang juga berasal dari bundo kanduang adat dan bundo kanduang yang berasal dari perempuan minang yang sudah menikah dan mencintai budaya minang kabau. Sehingga peranan bundo kanduang saat ini sudah meluas ke kehidpan masyarakat dan tidak terbatas pada keluarga mereka sendiri.

 

Bundo kanduang dalam suatu rumah tangga memiliki fungsi sebagai Limpapeh rumah nan gadang atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti penyangga rumah gadang. Rumah gadang adalah rumah khas penduduk Suku Minangkabau, sehingga seorang ibu haruslah menjadi pendidik dan tauladan anak dan keluarganya.

 

Dilansir dari buku Pegangan Penghulu di Minangkabau oleh Idrus Hakimy Dt, peribahasa Suku Minangkabau berbunyi: Raso dibaok naik, pariso dibaok turun yang artinya rumah tangga yang baik dimulai di dalam lingkungan rumah tangga dan keluarga, baru dia menjadi orang yang baik di luar rumah.

 

 Jadi, bundo kanduangmemiliki sifat-sifat keibuan dan kepemimpinan.

Adat Minangkabau yang memiliki sistem matrilineal, artinya garis keturunan diambil berdasarkan silsilah ibu,

 diungkapkan dalam gurindam adat Minang berikut:

 Bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang

 Umbun puruak pagangan kunci

 Umbun puruak aluang bunian

Pusek jalo kumpulan tali

Sumarak dalam kampuang

Hiasan dalam nagari

Nan gadang basa batuah

Kok hiduik tampek banasa

 Kok mati tampek baniak

Kaundang-undang ka Madinah

 Kapayuang panji ka sarugo

 

 Pusat jala kumpulan tali

 Semarak dalam kampung

Hiasan dalam negeri

Yang besar basa bertuah

Kalau hidup tempat bernazar

Kalau mati tempat berniat

Sebagai Undang Undang ke Madinah

Sebagai Payung Panji ke Syurga

 

Maksudnya, adat Minangkabu memberikan beberapa keutamaan dan pengecualian terhadap perempuan, sebagai tanda kemuliaan dan kehormatan yang diberikan kepada Bundo Kanduang, yang berguna untuk menjaga kemuliaan dan agar martabat Bundo Kanduang tidak jatuh.

Adapun keutamaan bundo kanduang di Minangkabau adalah:

Keturunan ditarik dari garis ibu, garis keturunan ditarik dari garis ibu (matrilineal),

 

sehingga seorang anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan Minang dari suku (misalnya Malayu) baik laki-laki atau perempuan akan bersuku Malayu pula. Tujuannya adalah agar manusia dapat menghormati dan memuliakan kaum ibu yang telah melahirkannya.

 

Selain itu, menurut adat Minangkabau seorang ibu akan lebih banyak menentukan watak dari manusia yang dilahirkannya,seperti kata pepatah:

Kalau karuah aie di hulu

 Sampai ka muaro karuah juo

Kalau kuriak induknyo

Rintiak anaknyo

Turunan atok ka palambahan

 

Kalau keruh air di hulu

Sampai ke muara keruh pula

Kalau kurik induknya

Rintik anaknya

Turun dari atap ke perambanan Rumah tempat kediaman

 

Menurut adat Minangkabau, rumah diperuntukkan untuk kaum perempuan dan bukan untuk laki-laki. Hal ini dikarenakan laki-laki secara kodrat lebih kuat dibandingkan perempuan. Mengingat pentingnya peranan perempuan dalam kehidupan dan juga kodratnya yang lemah, maka Adat Minangkabau lebih mengutamakan perlindungan terhadap kaum wanita.

 

Sesuai dengan pepatah adat:

 

Nan lamah ditueh

Nan condong ditungkek

Ayam barinduak Sirieh bajunjuang

 

Yang lemah ditopang

Yang condong diberi tongkat

Ayam berinduk Sirih berjunjungan

 

Peranan bundo kanduang berikutunya adalah, Sumber Ekonomi "Sawah ladang banda buatan" yang merupakan sumber ekonomi menurut adat Minangkabau, untuk pemanfaatannya lebih diperuntukkan untuk kaum perempuan. Walaupun begitu, bukan berarti kaum laki-laki tidak dapat memanfaatkannya sama sekali.

 

 Penyimpanan Hasil Ekonomi

 "Umbun puruak pagangan kunci, umbun puruak aluang bunian"

Maksudnya bahwa sebagai pemegang kunci hasil ekonomi adalah bundo kanduang.

 

Rangkiang sebagai lambang tempat penyimpanan diletakkan di depan rumah gadang yang ditempati oleh bundo kanduang. Sesuai dengan kodrat perempuan yang lebih ekonomis dibandingkan dengan kaumpria, maka hukum adat mempercayakan kepada perempuan untuk memegang dan menyimpan hasil sawah dan ladang.

Hak Suara dalam musyawarah Di dalam adat Minangkabau, perempuan mempunyai hak yang sama dalam musyawarah. Setiap ada sesuatu hal yang akan dilaksanakan dalam kaum atau persukuan, maka suara dan pendapat wanita juga ikut menentukan.

 

Fungsi Bundo Kanduang Adapun fungsi bundo kanduang menurut adat Minangkabau adalah: Limpapeh rumah gadang, Limpapeh adalah tiang tengah dalam sebuah bangunan, pusat kekuatan dari tiang-tiang lainnya. Apabila tiang tengah ambruk, maka tiang yang lainnya akan berantakan.

 Pengertian limpapeh disini sendiri menurut adat Minangkabau adalah seorang Bundo Kanduang yang telah meningkat menjadi seorang ibu. Jadi, ibu sebagai seorang limpapeh rumah gadang adalah tempat meniru, teladan. "Kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang, satitiak namuah jadi lawik, sakapa buliah jadi gunuang."

 

Seorang ibu bertugas membimbing dan mendidik anak yang dilahirkan dan semua anggota keluarga lainnya di dalam rumah tangga. Umbun puruak pagangan kunci.

 

 Apabila seorang wanita sudah menikah, maka tugasnya akan bertambah. Kalau tugas itu dijalankan dengan ikhlas serta hati yang tulus, akan mendatangkan kebahagian dalam rumah tangga. Pusek jalo kumpulan tali. Sebagai pengatur rumah tangga, Bundo Kanduang sangat menentukan baik atau buruknya anggota keluarga. Untuk itu diperlukan: Ilmu pengetahuan Sebagai pengatur rumah tangga, seorang bundo kanduang haruslah memiliki ilmu pengetahuan yang cukup, seperti ilmu dalam mengatur ekonomi keluarga, etiket [adab/sopan-santun] dan hal lainnya

 

 Sifat dan sikap terbuka Sifat dan sikap seorang bundo kanduang haruslah ramah, "tahu tinggi jo randah, budi baiek baso katuju", sopan dan santun, riang gembira, "capek kaki indak panaruang, ringan tangan indak pamacah." Sumarak dalam nagari, hiasan dalam kampuang

 

Sebagai anggota masyarakat, bundo kanduang haruslah memiliki rasa malu baik didalam berpakaian, bertutur kata, bergaul dan hal lainnya.

 

Bundo kanduang haruslah menghilangkan sifat-sifat "bak katidiang tangga bingkai, bak payuang tabukak kasau, alun diimbau alah datang, alun dijujai alah galak,bak kacang diabuih ciek, bak lonjak labu dibanam." Nan gadang basa batuah, ka undang-undang ka Madinah, ka payuang panji ka sarugo Sebagai lambang kebanggaan dan kemuliaan yang dibesarkan dan dihormati serta diutamakan dan dipelihara, perempuan Minang juga harus memelihara diri serta menundukkan diri dengan aturan agama [Syari'at] Islam.

 

 Lah bauriak bak sipasin

 Kok bakik alah bajajak

Abih tahun baganti musim

Sandi adat nan dianjak

Batang aua paantak tungku

Pangkanyo sarang limpasan

Ligundi di sawah ladang

Sariak indak baguno lai

Mambuhua kalau mambuku

Maukia jokok mangasan

Budi kok kalihatan dek urang Iduik indak paguno lai

 

"Aku Bangga Menjadi Anak Minangkabau"

ditulis kembali oleh Hj.Herlina Hasan Basri


 

Dalam budaya Suku Minangkabau, seorang ibu memiliki pernanan yang sangat penting. Garis keturunan seorang anak diambil dari ibunya, pendidikan dan juga suri tauladan seorang anak juga bersumber dari ibunya. Dalam budaya Suku Minangkabau, seorang ibu kandung atau wanita yang telah memiliki anak disebut sebagai Bundo kanduang atau ibu kandung.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Limpapeh Rumah Nan Gadang, Baju Tradisional Sumatera Barat", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2021/05/03/171936769/limpapeh-rumah-nan-gadang-baju-tradisional-sumatera-barat.
Penulis : Silmi Nurul Utami
Editor : Serafica Gischa

Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
Dalam budaya Suku Minangkabau, seorang ibu memiliki pernanan yang sangat penting. Garis keturunan seorang anak diambil dari ibunya, pendidikan dan juga suri tauladan seorang anak juga bersumber dari ibunya. Dalam budaya Suku Minangkabau, seorang ibu kandung atau wanita yang telah memiliki anak disebut sebagai Bundo kanduang atau ibu kandung.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Limpapeh Rumah Nan Gadang, Baju Tradisional Sumatera Barat", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2021/05/03/171936769/limpapeh-rumah-nan-gadang-baju-tradisional-sumatera-barat.
Penulis : Silmi Nurul Utami
Editor : Serafica Gischa

Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
alam budaya Suku Minangkabau, seorang ibu memiliki pernanan yang sangat penting. Garis keturunan seorang anak diambil dari ibunya, pendidikan dan juga suri tauladan seorang anak juga bersumber dari ibunya. Dalam budaya Suku Minangkabau, seorang ibu kandung atau wanita yang telah memiliki anak disebut sebagai Bundo kanduang atau ibu kandung. Baca juga: Pakaian Tradisional Manteren Lamo, Maluku Utara Bundo kanduang dalam suatu rumah tangga memiliki fungsi sebagai Limpapeh rumah nan gadang atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti penyangga rumah gadang. Rumah gadang adalah rum

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Limpapeh Rumah Nan Gadang, Baju Tradisional Sumatera Barat", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2021/05/03/171936769/limpapeh-rumah-nan-gadang-baju-tradisional-sumatera-barat.
Penulis : Silmi Nurul Utami
Editor : Serafica Gischa

Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6

Tidak ada komentar: