PERANAN WANITA DI MINANG KABAU
Minang kabau memiliki adat dan budaya yang sangat mengistimewakan para wanita didalam kehidupan sehari-hari. meskipun begitu, tampuk kepemimpinan tetap di pegang oleh lelaki yang disebut sebagai ninik mamak.
keduanya, antara ninik mamak dan perempuan yang disebut sebagai bundo kanduang sama-sama memiliki peranan yang besar dalam kehidupan. sistem matrelinial yang di anut kaum minang digunakan untuk melindungi para wanita.
apabila terjadi di hal yang tidak diinginkan pada seorang wanita, (misal ditinggal suami) maka wanita tidak perlu bersusah payah untuk mencari tempat tinggal baru. karena setelah menikah para suami lah yang tinggal dirumah wanita.
wanita minang terkenal dengan sifat yang lemah lembut, kuat dalam menghadapi masalah, tegar, pandai dalam bertutur kata, menjaga adab dan tingkah laku, dan pintar memasak.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Limpapeh Rumah Nan Gadang, Baju Tradisional Sumatera Barat", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2021/05/03/171936769/limpapeh-rumah-nan-gadang-baju-tradisional-sumatera-barat.
Penulis : Silmi Nurul Utami
Editor : Serafica Gischa
Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
Dalam budaya
Suku Minangkabau, seorang ibu memiliki pernanan yang sangat penting. Garis
keturunan seorang anak diambil dari ibunya, pendidikan dan juga suri tauladan
seorang anak juga bersumber dari ibunya. Dalam budaya Suku Minangkabau, seorang
ibu kandung atau wanita yang telah memiliki anak disebut sebagai Bundo kanduang
atau ibu kandung.
Namun saat ini bundo kanduang tidak terbatas kepada ibu kandung saja. Tapi juga
pada perempuan minang yang sudah menikah. Bundo kanduang juga berasal dari
bundo kanduang adat dan bundo kanduang yang berasal dari perempuan minang yang
sudah menikah dan mencintai budaya minang kabau. Sehingga peranan bundo
kanduang saat ini sudah meluas ke kehidpan masyarakat dan tidak terbatas pada
keluarga mereka sendiri.
Bundo kanduang dalam suatu rumah tangga memiliki fungsi sebagai Limpapeh rumah nan gadang atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti penyangga rumah gadang. Rumah gadang adalah rumah khas penduduk Suku Minangkabau, sehingga seorang ibu haruslah menjadi pendidik dan tauladan anak dan keluarganya.
Dilansir dari buku Pegangan Penghulu di Minangkabau oleh Idrus Hakimy Dt, peribahasa Suku Minangkabau berbunyi: Raso dibaok naik, pariso dibaok turun yang artinya rumah tangga yang baik dimulai di dalam lingkungan rumah tangga dan keluarga, baru dia menjadi orang yang baik di luar rumah.
Jadi, bundo kanduangmemiliki sifat-sifat keibuan dan kepemimpinan.
Adat Minangkabau yang memiliki sistem matrilineal, artinya garis keturunan diambil berdasarkan silsilah ibu,
diungkapkan dalam gurindam adat Minang berikut:
Bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang
Umbun puruak pagangan kunci
Umbun puruak aluang bunian
Pusek jalo kumpulan tali
Sumarak dalam kampuang
Hiasan dalam nagari
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banasa
Kok mati tampek baniak
Kaundang-undang ka Madinah
Kapayuang panji ka sarugo
Pusat jala kumpulan tali
Semarak dalam kampung
Hiasan dalam negeri
Yang besar basa bertuah
Kalau hidup tempat bernazar
Kalau mati tempat berniat
Sebagai Undang Undang ke Madinah
Sebagai Payung Panji ke Syurga
Maksudnya, adat Minangkabu memberikan beberapa keutamaan dan pengecualian terhadap perempuan, sebagai tanda kemuliaan dan kehormatan yang diberikan kepada Bundo Kanduang, yang berguna untuk menjaga kemuliaan dan agar martabat Bundo Kanduang tidak jatuh.
Adapun keutamaan bundo kanduang di Minangkabau adalah:
Keturunan ditarik dari garis ibu, garis keturunan ditarik dari garis ibu (matrilineal),
sehingga seorang anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan Minang dari suku (misalnya Malayu) baik laki-laki atau perempuan akan bersuku Malayu pula. Tujuannya adalah agar manusia dapat menghormati dan memuliakan kaum ibu yang telah melahirkannya.
Selain itu, menurut adat Minangkabau seorang ibu akan lebih banyak menentukan watak dari manusia yang dilahirkannya,seperti kata pepatah:
Kalau karuah aie di hulu
Sampai ka muaro karuah juo
Kalau kuriak induknyo
Rintiak anaknyo
Turunan atok ka palambahan
Kalau keruh air di hulu
Sampai ke muara keruh pula
Kalau kurik induknya
Rintik anaknya
Turun dari atap ke perambanan Rumah tempat kediaman
Menurut adat Minangkabau, rumah diperuntukkan untuk kaum perempuan dan bukan untuk laki-laki. Hal ini dikarenakan laki-laki secara kodrat lebih kuat dibandingkan perempuan. Mengingat pentingnya peranan perempuan dalam kehidupan dan juga kodratnya yang lemah, maka Adat Minangkabau lebih mengutamakan perlindungan terhadap kaum wanita.
Sesuai dengan pepatah adat:
Nan lamah ditueh
Nan condong ditungkek
Ayam barinduak Sirieh bajunjuang
Yang lemah ditopang
Yang condong diberi tongkat
Ayam berinduk Sirih berjunjungan
Peranan bundo kanduang berikutunya adalah, Sumber Ekonomi "Sawah ladang banda buatan" yang merupakan sumber ekonomi menurut adat Minangkabau, untuk pemanfaatannya lebih diperuntukkan untuk kaum perempuan. Walaupun begitu, bukan berarti kaum laki-laki tidak dapat memanfaatkannya sama sekali.
Penyimpanan Hasil Ekonomi
"Umbun puruak pagangan kunci, umbun puruak aluang bunian"
Maksudnya bahwa sebagai pemegang kunci hasil ekonomi adalah bundo kanduang.
Rangkiang sebagai lambang tempat penyimpanan diletakkan di depan rumah gadang yang ditempati oleh bundo kanduang. Sesuai dengan kodrat perempuan yang lebih ekonomis dibandingkan dengan kaumpria, maka hukum adat mempercayakan kepada perempuan untuk memegang dan menyimpan hasil sawah dan ladang.
Hak Suara dalam musyawarah Di dalam adat Minangkabau, perempuan mempunyai hak yang sama dalam musyawarah. Setiap ada sesuatu hal yang akan dilaksanakan dalam kaum atau persukuan, maka suara dan pendapat wanita juga ikut menentukan.
Fungsi Bundo Kanduang Adapun fungsi bundo kanduang menurut adat Minangkabau adalah: Limpapeh rumah gadang, Limpapeh adalah tiang tengah dalam sebuah bangunan, pusat kekuatan dari tiang-tiang lainnya. Apabila tiang tengah ambruk, maka tiang yang lainnya akan berantakan.
Pengertian limpapeh disini sendiri menurut adat Minangkabau adalah seorang Bundo Kanduang yang telah meningkat menjadi seorang ibu. Jadi, ibu sebagai seorang limpapeh rumah gadang adalah tempat meniru, teladan. "Kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang, satitiak namuah jadi lawik, sakapa buliah jadi gunuang."
Seorang ibu bertugas membimbing dan mendidik anak yang dilahirkan dan semua anggota keluarga lainnya di dalam rumah tangga. Umbun puruak pagangan kunci.
Apabila seorang wanita sudah menikah, maka tugasnya akan bertambah. Kalau tugas itu dijalankan dengan ikhlas serta hati yang tulus, akan mendatangkan kebahagian dalam rumah tangga. Pusek jalo kumpulan tali. Sebagai pengatur rumah tangga, Bundo Kanduang sangat menentukan baik atau buruknya anggota keluarga. Untuk itu diperlukan: Ilmu pengetahuan Sebagai pengatur rumah tangga, seorang bundo kanduang haruslah memiliki ilmu pengetahuan yang cukup, seperti ilmu dalam mengatur ekonomi keluarga, etiket [adab/sopan-santun] dan hal lainnya
Sifat dan sikap terbuka Sifat dan sikap seorang bundo kanduang haruslah ramah, "tahu tinggi jo randah, budi baiek baso katuju", sopan dan santun, riang gembira, "capek kaki indak panaruang, ringan tangan indak pamacah." Sumarak dalam nagari, hiasan dalam kampuang
Sebagai anggota masyarakat, bundo kanduang haruslah memiliki rasa malu baik didalam berpakaian, bertutur kata, bergaul dan hal lainnya.
Bundo kanduang haruslah menghilangkan sifat-sifat "bak katidiang tangga bingkai, bak payuang tabukak kasau, alun diimbau alah datang, alun dijujai alah galak,bak kacang diabuih ciek, bak lonjak labu dibanam." Nan gadang basa batuah, ka undang-undang ka Madinah, ka payuang panji ka sarugo Sebagai lambang kebanggaan dan kemuliaan yang dibesarkan dan dihormati serta diutamakan dan dipelihara, perempuan Minang juga harus memelihara diri serta menundukkan diri dengan aturan agama [Syari'at] Islam.
Lah bauriak bak sipasin
Kok bakik alah bajajak
Abih tahun baganti musim
Sandi adat nan dianjak
Batang aua paantak tungku
Pangkanyo sarang limpasan
Ligundi di sawah ladang
Sariak indak baguno lai
Mambuhua kalau mambuku
Maukia jokok mangasan
Budi kok kalihatan dek urang Iduik indak paguno lai
"Aku Bangga Menjadi Anak Minangkabau"
ditulis
kembali oleh Hj.Herlina Hasan Basri
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Limpapeh Rumah Nan Gadang, Baju Tradisional Sumatera Barat", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2021/05/03/171936769/limpapeh-rumah-nan-gadang-baju-tradisional-sumatera-barat.
Penulis : Silmi Nurul Utami
Editor : Serafica Gischa
Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Limpapeh Rumah Nan Gadang, Baju Tradisional Sumatera Barat", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2021/05/03/171936769/limpapeh-rumah-nan-gadang-baju-tradisional-sumatera-barat.
Penulis : Silmi Nurul Utami
Editor : Serafica Gischa
Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Limpapeh Rumah Nan Gadang, Baju Tradisional Sumatera Barat", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2021/05/03/171936769/limpapeh-rumah-nan-gadang-baju-tradisional-sumatera-barat.
Penulis : Silmi Nurul Utami
Editor : Serafica Gischa
Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6